Lembaga Cinta, Pemberdaya Kaum Difabel Sidoarjo; Fanani Ingin Buka Galeri Kaca Lukis di Mojokerto

Lembaga Cinta, Pemberdaya Kaum Difabel Sidoarjo; Fanani Ingin Buka Galeri Kaca Lukis di Mojokerto

SURYA.co.id | SIDOARJO - Keterbatasan fisik seseorang jangan sampai membatasi impian dan kreativitas. Sudah saatnya kaum difabel unjuk kemampuan terbaiknya untuk berkarya dan menjadi sosok mandiri.Hal itu ingin diupayakan Eka Pratama ketika mendirikan Lembaga Cahaya Inklusi Nusantara (Cinta) di kawasan Sepanjang, Sidoarjo.

Kesibukan terlihat jelas di Sekretariat Lembaga Cinta di Jalan Suko Legok, Sepanjang, Sidoarjo, Rabu (23/3/2016).Delapan pekerja difabel sedang membuat kaca lukis, nantinya dibentuk menjadi lampu hias, hiasan dinding, dan lainnya.Tempat ini menjadi pusat pengembangan keterampilan kaum difabel se-Jatim.

Satu di antara pekerja itu adalah Ahmad Fanani (21). Pemuda asal Mojokerto ini tengah memotong pola dekoratif dari kertas. Pola ini akan ditempelkan ke kaca bening dan disemprotkan cat air brush untuk memunculkan gambarnya."Saya baru tiga bulan latihan bikin kaca lukis. Mudah ternyata. Walau pakai satu tangan tetap lancar saja," kata Fanani kepada Surya.co.id, Rabu (23/3/2016).

Fanani adalah satu dari 10 difabel peserta pelatihan keterampilan di lembaga ini. Ia penyandang tuna daksa.Tangan kanannya terpaksa diamputasi tatkala ia mengalami kecelakaan di tempat usaha batu bata ayahnya saat di bangku SMP.Namun, ia tak kecil hati. Fanani memiliki beberapa pengalaman kerja. Sebelum merantau ke Sidoarjo, ia pernah bekerja di gerai penjualan handphone."Tapi saya pikir-pikir, kerja ikut orang itu sulit berkembangnya. Gajinya segitu-segitu saja," sambungnya.Ia memiliki kenalan di lembaga ini. Temannya itu kemudian mengajaknya bergabung dan dirinya menyetujuinya.

Diakuinya, dari segi penghasilan antara menjadi pekerja gerai HP dengan membuat kerajinan kaca hampir sama. Namun, potensi memiliki keahlian sebagai perajin kaca lukis diakui memiliki nilai investasi tinggi."Mungkin nanti saya akan bikin galeri sendiri di Mojokerto setelah benar-benar menguasai pembuatan kerajinan kaca ini," ujarnya mantap.

Penggagas Lembaga Cinta, Eka Pratama, menuturkan belum ada lembaga khusus yang mau memberdayakan kaum difabel di Sidoarjo. Institusi resmi seperti SLB hanya mengajarkan sisi akademik, namun minim pengajaran aplikatif secara spesifik."Padahal yang dibutuhkan kaum difabel itu adalah keterampilan agar bisa mandiri," tandasnya.

Lembaga ini baru berdiri November 2015 lalu. Ada pihak donatur dari kalangan pengusaha yang membiayai peralatan kerajinan ini.Eka menyatakan para difabel binaannya ini selama sebulan mampu memproduksi lebih dari 1.000 item lampu hias dan hiasan dinding dari kaca selama sebulan.

Kualitasnya pun setara dengan kualitas kaca hias dari pabrik. Bahkan, harga yang ditawarkan terbilang murah.Hiasan dinding seperti kaligrafi atau lukisan dekoratif harga termurah Rp 200.000. Sedang lampu kaca harga paling mahal Rp 400.000.

Meski diakui saat ini pihaknya kesulitan memasarkan, Eka tak patah arang. Ia akan mencoba banyak mengikuti ameran serta melakukan penawaran-penawaran secara online. "Target kami harus bisa ekspor," tegasnya.(surya/irawan s/24 maret 2016)

Meski lembaga ini baru berusia empat bulan, Eka mengaku memiliki rencana untuk membuat Pusat Inklusi Jatim (PIJ). Nantinya, PIJ ini akan menerima semua kaum difabel yang ingin mengembangkan potensinya menjadi wirausaha mandiri.

Eka memiliki rencana untuk melatih para difabel ini menjadi model profesional.

"Rencana-rencana itu sudah kami konsep bersama. Namun memang masih terkendala biaya. Kami berharap modal itu akan datang dari penjualan kerajinan kaca hias ini. Kami tengah menjajaki kontrak kerjasama dengan beberapa perusahaan untuk menjadi mitra pengerjaan kerajinan tangan ini," ucapnya.

 

👤 Oleh 🕔

Lokasi kantor Kami

Link Mitra Kerja

Statistik Pengunjung