MENGENAL PASAR KERJA LAOS

MENYONSONG ASEAN ECONOMY COMMUNITY 2016

Memahami Karakteristk Pasar Kerja Negara Anggota Asean

Nama resmi                       : Republik Demokratik Rakyat Laos

Ibukota                              : Vientiane

Luas                                 : 236,800 km2 

Sistem Pemerintahan         : Republik

Kepala Pemerintahan         : Perdana Menteri

Bahasa Resmi                  : Laos

Mata uang                        : Kip (LAK)

Kegiatan Perekonomian    : pertanian, bidang pemrosesan makanan dan pertambangan, khususnya tembaga produk tembaga, timah, emas dan gypsum serta sektor pariwisata.

Iklim                                : Laos  adalah  tropis  dan  dipengaruhi  oleh  angin musim. Musim penghujan berlangsung dari Mei hingga November, diikuti oleh musim kemarau sejak December sampai April

Pendapatan per kapita      : 986 dollar AS per tahun

Komoditas                       : Beras, pertambangan (tembaga, timah, emas, gypsum) dan pariwisata

Lowongan Formal            : Tenaga di sektor pertanian (bidang pemrosesan makanan), infrastuktur jalan/gedung dan pertambangan dan tenaga di sektor pariwisata.

*) Upah rata-rata             : Data Januari 2012, buruh Laos digaji Rp 753.162 per bulan.

 

Republik Demokratik Rakyat Laos adalah negara yang terkurung daratan di Asia Tenggara, berbatasan dengan Myanmar dan Republik Rakyat Cina di sebelah barat laut, Vietnam di timur, Kamboja di selatan, dan Thailand di sebelah barat. Dari abad ke-14 hingga abad ke-18, negara ini disebut Lan Xang atau "Negeri Seribu Gajah". Awal sejarah Laos didominasi oleh Kerajaan Nanzhao, yang diteruskan pada abad ke-14 oleh kerajaan lokal Lan Xang yang berlangsung hingga abad ke-18, setelah Thailand menguasai kerajaan tersebut. Kemudian Perancis menguasai wilayah ini di abad ke-19 dan menggabungkannya ke dalam Indochina Perancis pada 1893. Setelah penjajahan Jepang selama Perang Dunia II, negara ini memerdekakan diri pada 1949 dengan nama Kerajaan Laos di bawah pemerintahan Raja Sisavang Vong.

Keguncangan politik di negara tetangganya Vietnam membuat Laos menghadapi Perang Indochina Kedua yang lebih besar (disebut juga Perang Rahasia) yang menjadi faktor ketidakstabilan yang memicu lahirnya perang saudara dan beberapa kali kudeta. Pada 1975 kaum komunis Pathet Lao yang didukung Uni Soviet dan komunis Vietnam menendang pemerintahan Raja Savang Vatthana dukungan Amerika Serikat dan Perancis. Setelah mengambil alih negara ini, mereka mengganti namanya menjadi Republik Demokratik Rakyat Laos yang masih berdiri hingga saat ini. Laos mempererat hubungannya dengan Vietnam dan mengendurkan larangan ekonominya pada akhir dekade 1980an dan dimasukkan ke dalam ASEAN pada 1997.

Laos adalah negara yang terhimpit oleh daratan di Asia Tenggara dan diselimuti hutan lebat yang kebanyakan bergunung-gunung, di mana salah satunya yang tertinggi adalah Phou Bia dengan ketinggian 2.817 m dari permukaan laut. Laos juga memiliki beberapa dataran rendah dan dataran tinggi. Sungai Mekong membentuk sebagian besar dari perbatasannya dengan Thailand, sementara rangkaian pegunungan dari Rantai Annam membentuk sebagian besar perbatasan timurnya dengan Vietnam. Iklim Laos adalah tropis dan dipengaruhi oleh angin musim. Musim penghujan berlangsung dari Mei hingga November, diikuti oleh musim kemarau sejak December sampai April. Ibukota dan kota terbesar di Laos adalah Vientiane, kota-kota besar lain meliputi Luang Prabang, Savannakhet, dan Pakse.

 

Perekonomian

Pemerintah Laos - salah satu dari sekian negara komunis yang tersisa - memulai melepas kontrol ekonomi dan mengizinkan berdirinya perusahaan swasta pada tahun 1986. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi melesat dari sangat rendah menjadi rata-rata 6% per tahun periode 1988-2004 kecuali pada saat krisis finansial Asia yang dimulai pada 1997. Seperti negara berkembang umumnya, kota-kota besarlah yang paling banyak menikmati pertumbuhan ekonomi. Ekonomi di Vientiane, Luang Prabang, Pakxe, dan Savannakhet, mengalami pertumbuhan signifikan beberapa tahun terakhir.

Dibandingkan dengan negara-negara di sekelilingnya, perekonomian Laos memang tertinggal. Pendapatan per kapitanya tercatat 986 dollar AS per tahun. Pendapatan per kapita Thailand tercatat 4.700 dollar AS, Kamboja 700 dollar AS, sedangkan Singapura mencatat pendapatan per kapita tertinggi sebesar 37.000 dollar AS.Tapi semenjak Laos mulai melepas kontrol ekonomi dan mengizinkan berdirinya perusahaan swasta pada tahun 1986 dan juga saat pemerintah Laos menetapkan kebijakan perubahan jangka panjang dalam struktur ekonomi Laos dengan membuka kesempatan untuk penanaman modal asing dan swasta, persaingan pasar bebas, dll pada tahun 1991, perekonomian Laos pun berkembang pesat.

Infrastruktur serta sarana dan prasarana yang belum merata di tiap daerah merupakan suatu hambatan serius dalam kemajuan negara ini, padahal Laos memiliki hasil alam berupa produk tembaga, timah, emas dan gypsum yang menjanjikan, serta sektor pariwisata yang berkembang dengan pesat.

Sebagian besar dari wilayahnya kekurangan infrastruktur memadai. Laos masih belum memiliki jaringan rel kereta api, meskipun adanya rencana membangun rel yang menghubungkan Vientiane dengan Thailand yang dikenal dengan Jembatan Persahabatan Thailand-Laos. Jalan-jalan besar yang meghubungkan pusat-pusat perkotaan, disebut Rute 13, telah diperbaiki secara besar-besaran beberapa tahun terakhir, namun desa-desa yang jauh dari jalan-jalan besar hanya dapat diakses melalui jalan tanah yang mungkin tidak dapat dilalui sepanjang tahun. Ada telekomunikasi internal dan eksternal yang terbatas, terutama lewat jalur kabel, namun penggunaan telepon genggam/handphone telah menyebar luas di pusat perkotaan. Listrik tidak tersedia di banyak daerah pedesaan atau hanya selama kurun waktu tertentu. Pertanian masih memengaruhi setengah dari PDB dan menyerap 80% dari tenaga kerja yang ada. Ekonomi Laos menerima bantuan dari IMF dan sumber internasional lain serta dari investasi asing baru dalam bidang pemrosesan makanan dan pertambangan, khususnya tembaga dan emas. Pariwisata adalah industri dengan pertumbuhan tercepat di Laos. Pertumbuhan ekonomi umumnya terhambat oleh banyaknya penduduk berpendidikan yang pindah ke luar negeri akibat tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai. Pada 2005 penelitian oleh Bank Dunia melaporkan bahwa 37% dari penduduk Laos yang berpendidikan tinggal di luar negeri, menempatkan Laos pada tempat ke-5 di dunia untuk kasus ini.

Akhir 2004 Laos menormalisasi hubungan dagangnya dengan Amerika Serikat, yang membuat produsen Laos mendapatkan tarif ekspor yang lebih rendah sehingga merangsang pertumbuhan ekonomi mereka dari sektor ekspor.

 

Informasi Pasar Kerja

Infrastruktur serta sarana dan prasarana yang belum merata di tiap daerah merupakan suatu hambatan serius namun sektor pariwisata kondisinya saat ini berkembang dengan pesat. Tapi lebih dari itu, ternyata ada satu hal yang membuat pertumbuhan ekonomi Laos terhambat yaitu banyaknya penduduk berpendidikan yang pindah ke luar negeri akibat tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai. Pada 2005, penelitian oleh Bank Dunia melaporkan bahwa 37% dari penduduk Laos yang berpendidikan tinggal di luar negeri dan menempatkan Laos pada tempat ke-5 di dunia untuk kasus ini.

Kekurangan akan Sumber Daya Manusia yang memadai merupakan suatu masalah yang serius bagi Laos. Sejauh apapun mereka melangkah maju untuk perbaikan ekonomi, tidak akan memberi manfaat yang besar jika rakyatnya sendiri belum siap untuk menerima perubahan tersebut dan berperan aktif dalam usaha peningkatan taraf hidup mereka.

Untuk itu kebutuhan tenaga kerja disektor pertanian, bidang pemrosesan makanan dan pertambangan, khususnya tembaga produk tembaga, timah, emas dan gypsum serta sektor pariwisata membutuhkan tenaga terampil yang mampu mengisi kekurangan SDM yang ada.

Yang menarik di Laos pemerintah memiliki mandate terhadap upah minimum, dan tidak ada pekerja di Laos dapat dibayar kurang saat ini tingkat minimum wajib membayar. Majikan di Laos yang gagal untuk membayar upah Minimum mungkin akan dikenakan hukuman pemerintah Laos.

Menyediakan lapangan kerja di negera sendiri juga menjadi salah satu tugas penting bagi Laos. Seperti diketahui 37% dari penduduk Laos yang berpendidikan tinggal di luar negeri. Dengan tersedianya lapangan kerja mungkin jumlah tersebut perlahan bisa dikurangi. Laos harus mengundang investor-investor asing khususnya di industri padat karya.

👤 Oleh 🕔14 Oct 2015 13:53

JABATAN LOWONGAN

KABUPATEN KOTA LOWONGAN

Lokasi kantor Kami

Link Mitra Kerja

Statistik Pengunjung