Bagaimana upaya mendorong kesiapan dan pemahaman peluang pasar ASEAN ? (Artikel lanjutan : 1 Januari 2016 Selamat Datang Komunitas Pasar Asean)

Bagaimana upaya mendorong kesiapan dan pemahaman peluang pasar ASEAN ?

Modal yang paling utama untuk mendorong kesiapan kita (Indonesia) menghadapi pasar Asean adalah ‘ optimisme ‘, yang wajib harus dimiliki dan dijaga oleh seluruh rakyat Indonesia. Dengan sikap optimis ini diharapkan mampu meminimalkan sikap tidak peduli dan apatis dan mendorong melakukan tindakan-tindakan proaktif dan kreatif.

Secara faktual daya saing tenaga kerja di Indonesia termasuk rendah jika diukur dengan menggunakan indikator pendidikan, produktivitas, dan upah maka peninkatan kualitas SDM secara holistik perlu dilakukan.Pendidikan di Indonesia yang mayoritas angkatan kerja di Indonesia adalah lulusan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) perlu diarahkan melalui gerakan wajib belajar, pengembangan sistem pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi (standar kompetensi, pelatihan berbasis kompetensi, dan sertifikasi kompetensi). Disisi lain upaya peningkatan produktivitas  pelaksanaan Sertifikasi Internasional dalam bidang-bidang tertentu (yang berkaitan dengan MRA’s misalnya).

Khusus dalam program pembangunan ketenagakerjaan, yang mengarah pada pemanfaatan bonus demografi, kesempatan kerja, pendapatan yang layak, dialogis dan aman mengacu pada program Nawacita dan RPJMN, yang disarankan Kemnaker RI (Maruli HS, 2015) dan Kantor Bersama Asean yang mendesak dilakukan adalah :

  1. Program link and match, keterkaitan antara sektor pendidikan dan dunia kerja
  2. Kecenderungan yang semula berorientasi supply driven dan belum mengakomodasi kebutuhan sektor industri, akan berubah menjadi demand driven
  3. Kepastian atas penerapan peraturan ketenagakerjaan, besaran upah untuk meningkatkan produktivitas melalui Upah Minimum Kab/Kota Sektoral (UMKS) dan skala gaji.
  4. Upah, pendidikan rendah, menyebabkan produktivitas rendah, dan produktivitas rendah menyebabkan upah yang rendah. Solusi jangka pendek: memperbesar lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang keluarannya ialah memiliki sertifikasi kompetensi dan diakui di tingkat internasional

Menindaklanjuti skenario pembangunan ketenagakerjaan nasional, maka program mendesak yang dapat diimplementasikan di sector ketenagakerjaan ditingkat lokal bersama pemda dan seluruh stakeholder yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing dan kesempatan kerja lainnya :

  1. Promosi dengan contoh praktis untuk meningkatkan kesadaran (awarnes) dan kapasitas SDM. Mencontoh promosi MEA di Thailand, perlu memperbanyak pengiriman calon tenaga kerja belajar ke luar negeri agar berwawasan dan berketrampilan global. Promosi melalui edukasi dilevel SMP,  sekolah kejuruan dan ditempat layanan-layanan public serta jejaring Bursa Kerja Khusus di SMK/Univesitas juga menjadi pilihan efektif untuk peningkatan pemahaman tentang MEA. Thailand selama 2 tahun telah banyak mengirim mahasiswanya belajar budaya, pariwisata dan teknis di UGM, jogyakarta. Malaysia, telah lama memberi bea siswa calon dokter untuk belajar di Unair Surabaya.
  2. Percepatan untuk Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKNNI) di semua sektor. Pilihan mendesak BLK melatih berbasis kompetensi level 1-3 dalam jejang KKNI  untuk beberapa profesi unggulan di 8 sektor Pengakuan Kesetaraan Bagi Tenaga Kerja Terampil (MRA’s). unggulan di sector pariwisata, komunikasi dan kontruksi dapat diterjemahkan menjadi unit-unit profesi pilihan, setidaknya agar tidak diisi orang asing yang dampaknya akan menambah penganggur terdidik. Jika merujuk potensi lokal Jatim, maka pilihannya bisa difokuskan pada profesi pekerja disektor sepatu, furniture dan logam baik untuk unit kompetensi level 1-3 atau level 4-6 dalam skala KKNI. Pemda dapat memberi subsidi disektor lainnya yang berkontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja,  PAD dan peningkatan PDRB secara signifikan serta peningkatan kerjasama dengan sektor pendidikan.
  3. Percepatan untuk penerapan sertifikasi kompetensi kerja bagi pekerja Indonesia yang diakui secara nasional dan internasional, serta harmonisasi kualifikasi kompetensi antar Negara Asean. Peningkatan peluang dan promosi magang kerja di perusahaan dapat menjadi pilihan efektif dan efisien sebagai jembatan awal calon tenaga kerja mengenal kompetensi kerja. Pemerintah dapat membuat regulasi, mengkoordinasi bersama stakeholder dan membantu subsidi dalam bentuk bantuan biaya tes, transport, uji kompetensi atau informasi magang kerja secara terpadu dengan online pendaftaran pelatihan kerja di BLK.
  4. Pengendalian Tenaga Kerja Asing (TKA) yang bekerja di Indonesia. Fokus pengedalian terutama bagi jabatan level tehnisi, yang menjadi sasaran peng Indonesiaan Tenaga Pendamping  TKA.  Selain itu, sudah saatnya Tenaga Pendamping TKA dilatih tidak cukup hanya melalui ‘on the job tranining’ saja, namun pasca kontak TKA habis, sudah siap menggantikan dengan berbekal sertifikat kompetensi. Dasar pengendalian TKA perlu mengacu pada prinsip security (keamanan) dan prosperity (kemanfaatan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat). Sedang peraturan daerah TKA diharapkan mengatur dana kompensasi pelatihan dan kewajiban adanya uji kompetensi minimal untuk mengisi KKNI level 4-6.  
  5. Penyediaan informasi pasar kerja seluas-luasnya di tempat-tempat layanan public baik untuk lowongan dalam negeri maupun ke untuk mengisi lowongan di luar negeri. Informasi ini menjadi bahan pembuatan database kebutuhan pasar kerja yang muaranya menjadi input analisa kebutuhan pelatihan (training need analysis) yang berbasis Kamus Jabatan Baru Indonesia (KJBI) dan berorientasi pada penempatan kerja. Jatim dalam layanan ‘Ayo Kerja’ (website www.infokerja-jatim.com) telah memulai menyediakan informasi peluang MEA, mengenal SKKNI dan peta kompetensi beserta ketrampilan softskil untuk membantu pencari kerja memahami dan memilih pekerjaan yang tepat. Ke depan hasil pengolahan informasi pasar kerja luar negeri, akan menjadi input penyediaan TKI yang terampil dan tersertifikasi. Kios Infokerja Bersama yang ditempatkan di institusi pelayanan publik (diknas, perpustakaan, samsat dan kantor perinjinan) contoh replikasi yang menyesuiakan kekuatan local melalui program ‘low budget high impact’ dari layanan inovasi Ayo Kerja di Kota Mojokerto. Selain itu, penghargaan layanan inovasi ‘Ayo Kerja’ sebagai Top 25 layanan inovasi publik Nasional, didorong menjadi spirit  untuk mempercepat reformasi birokrasi internal menuju layanan berbasis e-governent yang keberadaannya harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat (one agency on innovation).
  6. Mendorong terbentuknya keunggulan local (local advantages) yang bersumber dari potensi alam, SDM atau budaya menuju keunggulan yang berdaya saing (competitive advantages). Implementasi pembangunan kawasan wisata kota Batu dan pariwisata budaya/alam di Kab. Banyuwangi bisa menjadi contoh praktis bagi daerah lain keterkaitan pengelolaan dampak pembangunan dengan tumbuhnya UMKM dan pengurangan pengangguran. Sektor ketenagakerjaan sebetulnya telah memiliki contoh program praktis untuk mendukung keunggulan local seperti program ‘desa produktif, padat karya produktif atau pembinaan produktivitas pedesaan usaha mikro dan kecil atau kampung TKI/koperasi purna TKI’. Program ini cukup efektif meminimal atau mencegah migrasi tenaga kerja ke kota.

 

 

👤 Oleh 🕔04 Jan 2016 17:15

Lokasi kantor Kami

Facebook

Link Mitra Kerja

Statistik Pengunjung