Apa untungnya bagi Indonesia ada Komunitas Pasar Asean? (Artikel Lanjutan : 1 Januari 2015 Selamat Datang Komunitas Pasar Asean)

Apa untungnya bagi Indonesia ada Komunitas Pasar Asean?

Yang menjadi kegelisahan dan yang cukup mengganggu dalam menyongsong pasar tunggal ASEAN adalah ketika arus liberalisasi jasa dan tenaga terampil lainnya termasuk ke Indonesia, maka tenaga profesi baik skillful labour maupun semi-skilled labour akan semakin deras mengisi pasar kerja di Indonesia. Selain itu, data Kemnaker RI sampai dengan tahun 2015, jumlah lulusan SD dan SMP yang menjadi angkatan  kerja sebanyak 67%. Bagaimana tenaga kerja bisa bersaing? Belum lagi ditambah jumlah penganggur yang jumlahnya banyak.

Namun kenyataannya, kualitas tenaga kerja Indonesia yang rata-rata pendidikan SD, SMP dan sebagai tenaga kasar yang merupakan “kekuatan” Indonesia yang tidak termasuk dalam program liberalisasi dalam kontek MRA’s ini. Justru tenaga kerja informal (baca : TKI) yang selama ini merupakan sumber devisa non-migas yang cukup potensional bagi Indonesia, kecenderungannya akan dibatasi pergerakannya terlebih pemerintah Indonesia sendiri sudah mencanangkan kebijakan ‘zero informal workers’ di tahun 2017 nanti. Faktor stabilitas ekonomi Indonesia yang kondusif ini dan dampak bonus demografi juga diharapkan mampu menjadi peluang (opportunity) dimana Indonesia akan menjadi sebuah kekuatan tersendiri, apalagi didukung oleh sumber daya alam yang begitu besar bersama sumber tenaga kerjanya. Maka sebagian pakar menyatakan akan sangat tidak masuk akal apabila Indonesia tidak bisa berbuat sesuatu menghadapi pasar Asean. Memang secara kualitas angkatan kerja yang tersedia kebanyakan berkualifikasi rendah, namun melihat jumlah penduduknya yang besar, masih banyak juga potensi-potensi tenaga kerja yang terdidik, terampil dan bersetifikasi yang tersedia di Indonesia. Jika Indonesia masih saja disibukan dengan urusannya sendiri yang berkutat pada gonjang ganjing politik yang cenderung tidak produktif, jangan-jangan Indonesia yang sudah menjadi incaran pasar potensial barang dan jasa negara lain akan menjadi penonton di negerinya sendiri.

Komunitas pasar kerja ASEAN ini bisa juga diartikan sebagai peluang besar (big opportunity) namun juga bisa menjadi ancaman yang bisa merugikan Indonesia apabila pasar kerja dan tenaga kerja nasional belum siap (Kajian UGM dalam Kesiapan MEA 2015). Indonesia masih mengalami beberapa masalah internal terkait isu ketenagakerjaan antara lain tingginya angka pengangguran dan kurangnya daya saing atau kualitas tenaga kerja Indonesia. Data Kemnaker RI tahun 2015 yang juga ditegaskan oleh Menaker akhir-akhir ini, menunjukan bahwa Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan (IPK) di Indonesia masih dalam tataran rata-rata menengah bawah (55.73). Sumber Kemnaker RI juga menilai pembangunan ketenagakerjaan di Indonesia dengan 9 (Sembilan) indikator masih belum signifikan untuk mampu bersaing. Indikator tersebut adalah Perencanaan Tenaga Kerja, Penduduk dan Tenaga Kerja, Kesempatan Kerja, Pelatihan dan Kompetensi Kerja, Produktivitas Tenaga Kerja, Hubungan Industrial, Kondisi Lingkungan Kerja, Pengupahan dan Kesejahteraan Pekerja, dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja.

Ditengah kondisi pembangunan ketenagakerjaan yang masih belum mengembirakan, ada baiknya menengok juga data yang bersumber dari  International Labour Organization (ILO), yang menyampaikan laporannya bahwa kondisi pasar tenaga kerja Indonesia terus mengalami perkembangan sepanjang tahun 2014 dan 2015 yang ditandai dengan peningkatan jumlah pekerjaan dan penurunan angka pengangguran terbuka. Di Jawa Timur  yang dikutip dari Data BPS per Agustus 2015, melaporkan adanya kenaikan tenaga kerja yang bekerja sektor formal yang secara ekonomi cukup menunjang adanya peningkatan kesejakteraan. Selain itu ada perubahan paradigma lulusan pendidikan tenaga kerja yang mulai bergeser menuju SLTA, Diploma dan Sarjana. Jumlah penduduk yang bekerja di Jatim dari data BPS pada Agustus 2015 mengalami peningkatan menjadi 13,12 juta orang jika dibandingkan kondisi Agustus 2014 yang mencapai 12,82 juta orang.

Yang perlu mendapat perhatian serius adalah fluktuasi di bidang pekerjaan yang menunjukkan adanya persoalan struktural di pasar tenaga kerja Indonesia. Persoalan ini banyak disumbang dari missmatch antara kualitas supply tenaga kerja yang dihasilkan dunia pendidikan dengan demand kebutuhan di pasar kerja (ILO dan Kantor Asean 2015). Adapun kondisi pengangguran yang terjadi di Indonesia banyak disebabkan karena belum maksimalnya dan belum tersedianya lapangan pekerjaan yang cukup bagi tenaga kerja Indonesia di dalam negeri. Data dari BPS per agustus 2015, di Indonesia jumlah angkatan kerja sebanyak 122.38 juta, jumlah penganggur sebanyak 7.56 juta (6.18%) dan setengah penganggurnya berjumlah 30%. Sedang di Jawa Timur, jumlah angkatan kerja sebanyak 20.274 juta, bertambah sebanyak 124.690 orang, sementara jumlah lapangan pekerjaan sebanyak 19.367 juta (hanya bertambah sebanyak 61.270 orang). Jadi terdapat tambahan penganggur baru di Jawa Timur di Tahun 2014 sebanyak 63.410 orang. Kondisi ketenagakerjaan tersebut memang banyak dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan ekonomi dan situasi global terhadap bertambahnya pengangguran di Indonesia khususnya di Jawa Timur (PTKD Bambang Wardoyo Kemnaker RI 2015).

 

Tabel Kondisi Ketenagakerjaan di Jatim 2014-2015

*) PTKD : Bambang Wardoyo Kemnaker RI

 

Mengutip data Staf ahli Kemnaker RI (Maruli S,2015), sebetulnya ada banyak dampak positif atas pemberlakuan Asean Economic Community (AEC) atau yang sering disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) bagi Indonesia, antara lain :

  1. persaingan ekonomi akan mendorong peningkatan kualitas produk dan harga yang dihasilkan
  2. Multiplier effect, perekonomian mikroekonomi (perusahaan) dan nasional
  3. Peningkatan kualitas daya saing tenaga kerja

Sedangkan perkiraan dampak negatif dari Asean Economic Community (AEC) atau yang sering disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) bagi Indonesia antara lain :

  1. Pengganguran akan meningkat
  2. Kualitas pasar tenaga kerja menurun
  3. Pembangunan dan kesejahteraan negara

Untuk itu, dalam konsep MEA, didorong dapat mempergunakan peluang tersebut secara optimal dengan  memobilisasi tenaga kerja terampil yang merupakan kunci pengelola usaha yang produktif dan efisien di pasar global. Saat ini, terdapat ribuan tenaga kerja migran di kawasan Asia Tenggara setiap tahunnya jumlahnya tersu bertambah. Meskipun demikian, banyak dari mereka yang masih merupakan tenaga kerja tidak terampil (Kemnaker ; Maruli HS, 2015). Analisis data migrasi penduduk dan tenaga kerja dari Departemen Antropologi UGM yang mengutip bersumber dari data ILO dan Asian Development Bank (ADB), menyebutkan keuntungan bagi Indonesia, dalam menghadapi MEA antara lain meningkatkan PDB 2,5%, membuka lapangan kerja sekurangnya 1,9 juta orang, dan meningkatkan kebutuhan tenaga kerja ketrampilan menengah 55,5% dan tinggi 2,3% (data proyeksi).

Beberapa sector unggulan tenaga kerja Indonesia di pasar ASEAN, berdasar kajian UGM yang dikutip dari laporan ILO, antara lain di sektor pariwisata seperti hotel, restoran, agen perjalanan, pemandu wisata dan lain-lain. Sedangkan untuk sektor kesehatan seperti pelayanan rumah sakit, perawat, fisioterapis dan lain-lain. Sementara itu, sektor jasa unggulan yang dapat dijadikan andalan Indonesia yaitu pariwisata, komunikasi dan kontruksi.

👤 Oleh 🕔04 Jan 2016 17:12

Lokasi kantor Kami

Facebook

Link Mitra Kerja

Statistik Pengunjung